Flickr Facebook Pinterest

Pet Photography dan Animo Pet Lover: Sebuah Catatan (agak) Ringan

     Bicara tentang Pet Photography memang gampang-gampang susah, atau susah-susah gampang rupanya. Di luar negeri, pet photography adalah genre fotografi yang berkembang pesat, seiring dengan naiknya 'status' hewan peliharaan dari dulunya yang hanya sekedar dikandangin dan dianggap hewan (ya sebenernya memang 100% hewan sih hehe...), dijadikan tontonan, dijadikan penghasil duit sebagai pabrik anakan sampai sekarang berkembang menjadi 'anggota keluarga', disayang dan dipenuhi hak-haknya bahkan yang ekstrem dianggap sebagai anak sendiri hehe... Meskipun sebenarnya sudah lama juga sih perjuangan para aktivis pecinta hewan untuk mendudukkan dan menghewankan hewan, dalam arti menghargai dan memenuhi hak hak hewan tersebut.
Sebelumnya sudah banyak negara yang mengimplementasikan deklarasi kesejahteraan hewan yang dikenal dengan UDAW (Universal Declaration on Animal Welfare). Badan PBB Unesco pada bulan Oktober 1978 di markas besarnya Paris, Prancis bahkan mengumumkan deklarasi mengenai hak-hak hewan, yang dikenal dengan UDAR (Universal Declaration of Animal Rights). Jadi bukan hanya kesejahteraannya saja yang harus dipenuhi, hak mereka pun harus dipenuhi. Isi deklarasi UDAR tersebut adalah bahwa, "Semua hewan mempunyai hak yang sama untuk hidup, tidak ada hewan yang boleh disakiti ataupun diperlakukan sebagai subjek kekejaman (manusia), hak-hak hewan harus dilindungi di bawah hukum, dan hewan yang mati tetap harus diperlakukan dengan respek".  Di Indonesia, pemerintah melalui Kementrian Lingkungan Hidup pun mencanangkan tanggal 5 November 1993 sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional dan selanjutnya diperingati sampai sekarang. Bahkan sebenarnya praktik penyiksaan, penelantaran dan kekejaman pada hewan sudah diatur dalam pasal2 KUHP kita, tentu saja ini termasuk tindakan melanggar hukum dan bisa terancam pidana (meskipun pada prakteknya di sekitar kita sampai hari ini masih saja terjadi pelanggaran terhadap hak-hak hewan).
     Rupanya kesadaran untuk menghargai hak-hak hewan ini menular juga di kalangan pet lover, mereka semakin sadar posisinya sebagai manusia yang berakal budi, sebagai owner dari binatang peliharaannya mereka dituntut untuk menjadi "responsible owner"  bagi peliharaannya. Memang sih, sebagian masih belum sadar, belum move on dari budaya barbar jaman batu yang memanfaatkan hewan peliharaan hanya sebagai piaraan, tontonan, gengsi dan sejenisnya tanpa berusaha dekat dan menyayangi peliharaannya (jenis pet owner ini mungkin belum sempurna berevolusi sebagai manusia kali yah hehehe...). Semoga saja jumlah yang model begini makin berkurang dari hari ke hari. Semoga saja pola pikir bahwa hewan peliharaan yang sudah dibeli terus kemudian sah2 saja diperlakukan semena2, ditelantarkan setelah nggak lucu lagi atau setelah menua dan sakit, dijadikan mesin cari duit, dibiakkan hanya untuk dijual anakannya tanpa memperhatikan kesejahteraan dan haknya itu makin ditinggalkan. Amiinnnnn...!! (Tentu tidak termasuk pembiak bertanggungjawab yang memperhatikan kesejahteraan hewannya yang ane maksudkan disini).
Ane kagak nyindir siapapun gan, tapi coba saja perhatikan, selalu saja ada model pet owner yang begini kan di sekitar kita dengan beribu alasannya: mulai gak paham cara merawatnya (tapi anehnya bisa beli, hanya aja nggak mau berusaha cari tahu cara merawat piaraannya), banyak kerjaan gak sempat ngurus (lah dulunya pegimane kok memutuskan memelihara hewan, dapat hibah warisan dari kakek buyutnya???), model yang begini sebelum ane bisa pakai kolor, atau bahkan dari dulu jaman makco dan kongco apa mbah buyut ane masih belum lepas tali puser ya memang sudah ada sih hehehe... :)

     Nah, kembali ke Pet photography yang dibilang susah karena objek fotonya bukan model yang mengerti arahan fotografer, sebaliknya malahan cenderung suka bergerak semaunya tanpa dapat diprediksi. Pet Photography (agak) susah berkembang karena disini penghargaan terhadap hewan dan pemenuhan hak-haknya belum sebagus di luar. Susah karena belum banyak orang yang tau -pet lover khususnya- bahwa ada genre fotografi yang memang bergelut di bidang pemotretan hewan peliharaan. Bahasa kerennya 'mbabat alas' alias harus berjuang jemput bola dan berusaha mati-matian memperkenalkan genre ini pada pet lover dan komunitasnya (ya iyalah wajar sebenarnya, sesuatu yang baru memang harus diperkenalkan dulu, kalo nggak gimana orang bisa memahami...).
Singkatnya begini, belum banyak yang mengenal atau mengerti apa itu pet photography, meski sebenarnya ini juga bukan hal yang benar2 baru. Di luar negeri profesi sebagai pet photographer adalah hal yang biasa dan lumrah, sama dengan profesi sebagai passfoto photographer (masih ada kan ini ya? Ingat kan waktu menyiapkan berkas lamaran kerja tiba2 profesi ini jadi penting hehe..), maternity photographer, baby photographer, wildlife photographer, landscape photographer atau wedding photographer kira-kira begitulah gampangya (kalo ngomongin wedding photographer semua orang ngerti kan, bahkan jangan2 hampir semua yang sudah menikah pernah memanfaatkan jasanya, kecuali yang menikahnya dulu ikut aliran selfie hehehe...). Bahkan di luar, profesi sebagai pet photographer bisa dijadikan gantungan hidup, minimal bikin dapur ngebul gan. Nggak percaya? Monggo silahkan googling dengan keywords "Pet Photography",  taruhan deh yang keluar duluan pasti website punya bule (kalo agan googlingnya dengan keywords "Pet Photography di Surabaya"  baru deh keluar website ane :) ).
Bagaimana di sini?? Boro-boro dijadiin gantungan hidup, diceritain soal pet photography aja banyak yang ngeryit2in dahi sambil bilang, "Pet aja pake difotoin fotografer, motret sendiri aja gampang, pake kamera HP juga bisa...?!!" Well, fine.. it's ok gan, 3 Thumbs Up deh buat agan yang berpikir kreatif begono, monggo silakan dipotret pake kamera HP, kan kata orang tak kenal maka tak sayang, kali aja agan nanti bisa memperkenalkan aliran baru: Smartphone Pet Photography  hehehe..

Silakan pilih - Kiri smartphone, kanan kamera. Kalau buat motret pet hasil yang kiri sama aja dengan yang kanan, sumpah gan ane belajar sama agan saja :)

Susah-susah gampang - Semua terlibat: Handler, Owner, Fotografer yang motret sambil akrobat (pasti itu ane gan), Asisten

     Susahnya sudah dibahas, gampangnya??? Ini nih, pet photography bisa jadi menyenangkan, fun dan terasa gampang bila dilakukan dengan hati, baik oleh si fotografer maupun kliennya. Misal si fotografer punya passion di bidang ini, punya pengalaman, dan skill di bidang fotografi (-ya kalo gak punya skill motret namanya juga pasti bukan fotografer, suruh cari kerjaan atau hoby lain aja biar gak ngaku2 fotografer gan-), sekaligus pet lover juga. Terus si klien juga kooperatif, punya waktu bersama buat membahas konsep pemotretan, mengerti, menyayangi dan paham karakter dan sifat hewan peliharaannya, dll. Nah yang begini ini bikin kerjaan pet photographer jadi mudah dan lebih berkualitas, karena kami bisa fokus pada konsep dan pemotretannya. Percaya atau tidak, pet anda gak akan bohong, nggak butuh waktu lama untuk sekilas melihat kedekatan hubungan antara pet dan ownernya, dan biasanya aura itu bakal terlihat di hasil fotonya kok :)

Kooperatif - Komunikasi antara klien dan fotografer mutlak dibutuhkan

     So, sebagai testcase, pada 20-21 September 2014 lalu LOOK Pethography memberanikan diri untuk hadir memeriahkan International Dogshow yang dihelat Perkin Jatim di Airlangga Convention Center, Kampus C Universitas Airlangga Surabaya. Ini sejalan dengan misi kami memperkenalkan genre Pet Photography pada masyarakat dog lover khususnya. Kami berharap lewat eksibisi, pameran portofolio dan demo pemotretan dengan konsep indoor studio di booth kami, dog lover akan lebih mengenal dan paham tentang pet photography (tentu bukan foto liputan, karena gaya liputan dan dokumentasi cenderung mengarah ke fotografi jurnalistik, berbeda dengan konsep yang kami miliki).

Konsep indoor studio di depan booth LOOK Pethography

     Bagaimana respon pet lover (atau tepatnya dog lover) dalam event tersebut? Ini yang menarik, rupanya responnya beragam mirip bunga setaman. Mulai dari tipe yang ngeryit-ngeryitin dahi di atas, melongo bengong, cuek, sekadar ingin tau lebih jauh, melihat-lihat portofolio kami, bertanya tentang proses pemotretan, sampai yang memutuskan melakukan pemotretan on location di booth kami. Lengkap kan responnya hehe.. Rata-rata mereka memang belum banyak mengenal genre pet photography yang kami geluti. Pemotretan hewan memang idealnya dilakukan di lokasi outdoor, selain lebih nature dan bebas bermain-main dengan ambient light, juga menjaga agar objek foto tidak stress. Terpapar cahaya dari artificial light berulang-ulang memang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan pada beberapa hewan, ujung2nya mereka stress. Namun karena keterbatasan waktu dan tempat, pemotretan yang bisa kami lakukan pada event tersebut hanyalah on location di booth kami, berupa pemotretan indoor studio. Syukurlah tidak satupun dari objek foto kami yang menunjukkan gejala stress. Pendekatan yang kami lakukan pada masing-masing objek juga terbilang singkat, sekilas melihat karakter si pet dan langsung melakukan pemotretan. Kami bersyukur masih tetap dapat memberikan hasil yang maksimal dengan semua keterbatasan tersebut.

     Pada hari pertama event kami kedatangan tamu istimewa, Ibu Deonisya Ruthy (atau saya panggil nama bekennya bu Rosekampoong aja yah bu hehe...), seorang rekan fotografer (beberapa tahun lalu saya bersama beberapa rekan fotografer sempat berpameran foto bersama beliau di sebuah gallery museum rokok di Surabaya dan terus terang saya juga pengagum karya beliau), pemerhati seni dan yang lebih istimewa, saya baru tahu beliau juga seorang dog lover. Mantap Bu hehehe.. Ibu Ruthy ahirnya sempat berfoto bersama keluarga dan puppy Beagle cantik bernama Ferlorch di booth kami :)

Ibu Ruthy dan keluarga dengan Ferloch, si puppy Beagle cantik

     Hari kedua kami kembali kedatangan tamu istimewa lainnya, Drh. Liang Kaspe. Pet lover tentu sudah tidak asing dengan nama ini kan? Drh. Liang juga sempat berfoto bersama anjing Fox Terrier kesayangannya yang bernama Emily :)

Drh. Liang kaspe dan Emily, Fox Terrier

     Seorang rekan dog lover yang lain, Ibu Lana juga menyempatkan diri berfoto bersama handler dan dua anjing Labrador Retiever kesayangannya, Alzette dan Auron :)

Ibu Lana beserta handler dan puppies Labradornya, Alzette dan Auron

Meisya, junior handler dari Malang dan Maddox, Poomerenian kesayangannya

     Sebagai penutup dari catatan (agak) ringan ini adalah kesimpulan kami bahwa secara keseluruhan kami (agak) puas bisa memperkenalkan pet photography pada masyarakat pet lover dan dog lover khususnya (meskipun diwarnai insiden mati listrik selama setengah hari pada hari kedua event; artinya praktis kami hanya bisa bekerja beberapa jam saja pada hari kedua).

     Kenapa ada 'agak' nya? Ini yang rupanya (agak) perlu untuk dicermati. Sebagai usaha awal untuk memperkenalkan pet photography pada masyarakat tentu tantangan yang kami hadapi tidak segampang membalik telapak tangan. Bahkan ada satu dua kasus ketika kami menjelaskan soal pet photography, tiba tiba ada yang nyeletuk, "Kan cuma anjing (pet)??! Kenapa (harga) foto nya sama dengan (motret) orang?" Sepele sih celetukannya, bahkan mungkin keluar dari ketidaktahuan dan pemikiran spontan bahwa pet 'tidak layak' untuk dihargai sebegitunya. Tapi percaya gan, itu membuat kami sebagai pekerja seni terluka (kalau fotografi adalah bagian dari karya seni, artinya pelakunya adalah pekerja seni, betulkan jika saya salah). Lah kok bisa 'terluka' dan curhat disini? Sederhana sih, pertama ini web saya sendiri terserah saya donk mau curhat apa enggak. Kedua sebagai penghasil karya, kami berhak menghargai karya kami sendiri (memang sampai saat ini kami masih 'tau diri' untuk tidak atau belum menggantungkan hidup kami dari pet photography, namun kami merasa tetap harus menghargai hasil kerja dan karya kami sendiri). Kata2 seperti itu artinya merendahkan karya kami, dengan kata lain begitu kan? Kalau boleh 'membela' diri tentu ada sejuta alasan kami berkilah, taukah anda secara teknis kamera dan peralatan penunjang yang kami pakai memiliki umur, ada depresiasi, penyusutan dan sebagainya setiap kali dipakai, ada komponen shutter didalam kamera yang akan habis terpakai saat mendekati 100.000 kali pemakaian (bahkan mungkin kurang dari itu). Tahukah anda bahwa investasi peralatan fotografi juga tidak bisa dikatakan murah, tahukah anda bahwa ketika kami menekan tombol shutter ada konsep yang telah dipikirkan, ada ide dan skill kami disana dsb, dsb, dsb. Intinya mau motret orang, motret pet, atau motret jempol kaki sendiripun (kalau memang nganggur) tetap ada komponen biaya yang harus dihitung (kalau tinggal pencet tombol shutter anak saya yang berusia 10 tahun juga jago gan :) ). Tapi sudahlah silahkan direnungkan saja, mungkin ini klise, teman2 fotografer dari genre yang lain juga sering mengalami perlakuan yang kurang lebih sama, dan percayalah mereka juga terluka meskipun berusaha memahami pemikiran orang awam dan menjadikan lecutan serta introspeksi buat karya mereka yang lebih baik. Bagi kami ini tentu adalah titik awal yang menjadi motivasi untuk terus berusaha mengembangkan dan memperkenalkan genre pet photography pada masyarakat pet lover.

     Terahir, kami berterimakasih buat rekan-rekan dari LOVING DOG COMMUNITY (LDC)  yang sudah memberikan support moral dengan meluangkan waktu mampir dan berkunjung ke booth kami, Pangeran sing mbales yo guys. Thanks a lot!! (Special thanks buat ko Eddy Gunawan yang sempat memotret kami ketika beraksi, salah satu hasil fotonya saya pajang di halaman ini, tentu dengan ijin beliau).

     Semoga catatan (agak) ringan ini bisa menjadi pembelajaran bersama, paling tidak kami sudah (agak) berusaha memperkenalkan Pet Photography di kalangan Pet Lover. Feel free to (agak) disagree with me guys, monggo saya tidak berusaha mempengaruhi pendapat anda. Apa yang saya sharingkan adalah hasil pemikiran saya sendiri berkaca pada pengalaman saya sebagai pet photographer. Selamat beraktivitas pet lover dan terus berkarya!!!

Sidoarjo, 05 November 2014

LIHAT ARSIP NEWS LAINNYA DISINI